0856.4040.1616 Penelitian Terkini : Organisasi Kesehatan Dunia Mengungkap Tentang Khitan || Rumah Sunat Kaisar Gemolong
Khitan yang merupakan praktik sunat pada laki-laki, sering kali menjadi topik kontroversial dalam masyarakat. Indonesia mempunyai berbagai macam metode tentang khitan ada yang tradisional maupun metode modern. Metode modern seperti yang berada di Sragen Rumah Sunat Kaisar Gemolong yang mempunyai fasilitas yang lengkap dan ahli medis profesional berpengalaman. Membahas mengenai khitan terdapat pandangan Organisasi Kesehatan Dunia tentang khitan, berikut penjelasannya :
Tradisi agama
Praktik khitan diyakini berasal dari praktik agama dan budaya yang dilakukan di berbagai negara di seluruh dunia. Sebagai contoh, praktik sunat pada laki-laki merupakan bagian dari tradisi agama islam. Sementara itu, praktik khitan juga telah diadopsi oleh beberapa kelompok agama lain, seperti Yahudi dan orang Kristen di Afrika.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa praktik khitan pada laki-laki memiliki akar yang berawal dari tradisi agama dan budaya yang dikenal di berbagai negara di seluruh dunia. Dalam beberapa agama, seperti Islam, Yahudi, dan Kristen, praktik khitan dianggap sebagai tindakan suci yang harus dilakukan oleh pria dalam komunitas agama tersebut.
Pada umumnya, praktik khitan dianggap sebagai bagian dari ritual untuk menandai peralihan dari masa anak-anak menjadi dewasa dalam masyarakat. Selain itu, praktik khitan juga dianggap penting untuk membersihkan dan menjaga kebersihan bagian genital pada pria. Meskipun alasan praktik khitan bervariasi di setiap budaya dan agama, tetapi secara umum ada penekanan akan pentingnya membersihkan dan menjaga kebersihan pada bagian tubuh tersebut.
Walaupun khitan di identifikasi sebagai praktik keagamaan, namun pandangan terhadap cara pelaksanaanya dapat bervariasi di setiap negara dan agama. Beberapa komunitas agama memiliki pendekatan yang berbeda terkait khitan dan prosesnya. Ada yang memilih melakukan sunat pada bayi baru lahir dengan alasan tentu saja kadar nyeri yang dirasakan lebih sedikit. Ada juga yang melakukan khitan pada usia yang relatif lebih tua, mungkin karena alasan adat dan kepercayaan tertentu.
WHO sendiri menekankan bahwa praktik khitan pada laki-laki harus dilakukan oleh profesional kesehatan yang terlatih dan dengan proses yang aman untuk mencegah risiko infeksi dan komplikasi lain yang berkaitan dengan prosedur tersebut. WHO juga menyarankan agar pentingnya para profesional kesehatan berkomunikasi dengan pasien dan orang tua atau keluarga mereka tentang persetujuan yang diperlukan sebelum melakukan khitan. Ini bertujuan melindungi pasien dari kemungkinan praktik khitan yang dilakukan tanpa persetujuan atau tanpa prosedur yang aman dan terkendali.
Meningkatkan kesehatan
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengeluarkan panduan tentang praktik khitan baik untuk melindungi kesehatan laki-laki maupun perempuan. Menurut WHO, praktik khitan pada laki-laki dapat mengurangi risiko infeksi saluran kemih dan menular seksual seperti HIV dan herpes. Selain itu, praktik ini juga dapat membantu mencegah kanker penis dan fimosis.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa salah satu manfaat praktik khitan pada pria adalah meningkatkan kesehatan. Beberapa penelitian medis dan studi ilmiah telah menunjukkan bahwa praktik khitan memiliki manfaat kesehatan yang signifikan bagi pria.
Menurut WHO salah satu manfaat kesehatan utama praktik khitan pada pria adalah mengurangi risiko infeksi saluran kemih dan menular seksual. Studi menunjukkan bahwa pria yang menjalani praktik khitan memiliki risiko penularan penyakit menular seksual, seperti virus HIV dan herpes, yang lebih rendah dibandingkan dengan pria yang tidak menjalani praktik khitan. Hal ini dikarenakan proses khitan dapat mengurangi area permukaan kulit yang terkena kontak dengan partikel penyakit dan dapat mempermudah akses kebersihan pada alat vital pria.
Selain itu, praktik khitan pada pria juga dapat mencegah risiko kanker penis. Studi menunjukkan bahwa praktik khitan dapat membantu mencegah terbentuknya kanker penis, sebuah kondisi yang terjadi ketika bakteri yang terperangkap di bawah kulup penis menghasilkan toksin yang dapat memicu timbulnya sel kanker.
Dalam hal penanganan fimosis juga penyakit lainnya, praktik khitan pada laki-laki juga dapat membantu mengurangi risiko terjadinya fimosis, sebuah kondisi yang menyebabkan kulit yang menutupi kepala penis menjadi ketat dan tidak bisa di tarik hingga ke bawah. Pada beberapa kasus tertentu, kondisi ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan bahkan dapat menghambat proses buang air kecil.
Namun, walaupun praktik khitan memberikan manfaat kesehatan, WHO menekankan bahwa praktik khitan tetap harus dilakukan dengan prosedur yang aman dan tidak membahayakan kesehatan siapapun yang menjalani prosedur tersebut. Penting untuk mencari penyedia jasa khitan yang terlatih dan bersertifikasi, serta berbicara dengan dokter atau profesional kesehatan jika memiliki pertanyaan atau kekhawatiran tentang praktik khitan.
Hanya untuk laki-laki
Praktik khitan merupakan praktik sunat yang hanya dilakukan pada laki-laki. Proses khitan pada laki-laki dilakukan dengan menghilangkan kulit yang menutupi ujung penis dengan menggunakan pisau atau alat khusus lainnya. Pada umumnya, prosedur ini dilakukan pada bayi laki-laki atau anak laki-laki di bawah usia 10 tahun dengan tujuan untuk meningkatkan kebersihan genital dan mencegah infeksi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa praktik khitan hanya dilakukan pada laki-laki. Hal ini disebabkan karena anatomi laki-laki dan perempuan yang berbeda. Proses khitan pada laki-laki dilakukan dengan menghilangkan kulit yang menutupi ujung penis, yang disebut kulup, dengan menggunakan pisau atau alat khusus lainnya. Sementara itu pada perempuan, proses khitan yang dikenal dengan istilah female genital mutilation (FGM) melibatkan pengirisan atau pengangkatan sebagian atau seluruh organ genital perempuan.
WHO secara tegas menolak FGM dan membela hak kesehatan dan kesetaraan gender perempuan. WHO menganggap bahwa FGM merupakan pelanggaran hak asasi manusia, serta dapat menyebabkan dampak jangka panjang pada kesehatan fisik dan mental perempuan.
Di sisi lain, praktik khitan pada laki-laki terkadang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kebersihan dan mencegah risiko infeksi pada alat kelamin laki-laki. Beberapa negara, terutama di Afrika dan Timur Tengah, memandang praktik khitan sebagai suatu kewajiban keagamaan, serta sebagai tanda peralihan penting dari masa kanak-kanak menjadi dewasa pada laki-laki. Namun, praktek khitan tetap menjadi topik kontroversial di beberapa negara, karena ada anggapan bahwa praktik khitan terkadang dilakukan tanpa persetujuan pasien atau terlalu kasar sehingga dapat menyebabkan trauma dan berbagai komplikasi kesehatan.
WHO menekankan bahwa praktik khitan pada laki-laki harus dilakukan oleh profesional kesehatan yang terlatih dengan proses yang aman dan tidak merugikan kesehatan pihak yang menjalani prosedur tersebut. Selain itu, praktik khitan juga harus dilakukan dengan persetujuan orang yang bersangkutan, dengan usia yang sesuai, dan tanpa paksaan apapun.
Bentuk pengobatan
Praktik khitan memang dikenal sebagai bentuk pengobatan alternatif pada beberapa negara di Asia. Beberapa studi menunjukkan bahwa terdapat manfaat kesehatan yang signifikan dari praktik sunat pada laki-laki, terutama dalam mencegah penyebaran penyakit menular seksual. Oleh karena itu, praktik khitan pada laki-laki sering kali direkomendasikan sebagai suatu bentuk pengobatan alternatif.
Namun demikian, penting bagi individu untuk mengkonsultasikan praktik khitan dengan dokter atau ahli kesehatan sebelum melakukannya. Hal ini menjamin bahwa praktik khitan dilakukan dengan prosedur yang aman dan mencegah risiko infeksi atau komplikasi lainnya. Selain itu, perlu diperhatikan bahwa setiap praktik khitan harus dilakukan secara sukarela dan tidak ada paksaan terhadap individu untuk menjalani prosedur ini.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan khitan sebagai salah satu bentuk pencegahan infeksi menular seksual (IMS), seperti HIV/AIDS. Khitan diyakini dapat mengurangi risiko penularan IMS melalui aktivitas seksual, terutama pada pria yang berhubungan seks dengan pria yang terinfeksi HIV/AIDS.
Sebelum mengeluarkan rekomendasi ini, WHO melakukan sejumlah penelitian terhadap khitan pada pria. Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko penularan HIV/AIDS pada pria yang telah dikhitan lebih rendah dibandingkan dengan pria yang tidak dikhitan. Selain itu, khitan juga diyakini dapat mengurangi risiko terkena kanker serviks pada pasangan wanita dari pria yang telah dikhitan.
Namun, perlu diingat bahwa khitan hanyalah salah satu cara pencegahan IMS. WHO tetap mendorong penggunaan kondom dan promosi perilaku seks sehat dalam pencegahan IMS. Selain itu, khitan yang dilakukan harus memenuhi standar medis untuk menghindari risiko komplikasi.
Rekomendasi WHO tentang khitan sebagai bentuk pencegahan IMS telah menjadi kontroversi di beberapa negara. Beberapa pihak mempertanyakan validitas dan etika dari rekomendasi ini. Beberapa agama juga memiliki pandangan yang berbeda terkait praktik khitan pada pria. Sebagai organisasi yang berkomitmen dalam pemberdayaan kesehatan masyarakat global, WHO terus mempelajari dan mengevaluasi rekomendasi ini untuk memastikan efektivitas dan keamanannya.
Dalam kesimpulannya, praktik khitan dapat dianggap baik dan bermanfaat dalam melindungi kesehatan laki-laki, namun tetap harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian, baik oleh individu maupun oleh praktisi kesehatan yang terlatih.
Rumah Sunat Kaisar Gemolong menjadi alternatif yang sedang mencari khitan dengan teknologi modern di negara Indonesia tepatnya di kota Sragen. Beragam metode seperti teknik laser, sealer maupun silverseal. Untuk pelayanan online terkait konsultasi atau pendaftaran silahkan bisa menghubungi nomor berikut 0856.4040.1616.
Kaloran Gemolong Sragen
0856 – 4040 – 1616
